Print |  Email | RSS RSS |  Email Alerts |  Contacts | Download Financial Tear Sheet Financial Tearsheet

News Release

Printer Friendly Version View printer-friendly version
Back
Mandiri Sisihkan Laba Sebesar Rp24,6 Triliun untuk Perkuat Posisi Pencadangan
02/14/17

Jakarta, 14 Februari 2017 – Bank Mandiri membukukan kenaikan aset menjadi Rp1.038,7 triliun pada akhir triwulan IV-2016 untuk menjadi bank terbesar di Indonesia. Bank Mandiri juga mencetak laba sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp43,3 triliun pada akhir tahun lalu yang mendorong perseroan segera mengambil kesempatan untuk memperkuat posisi dan meningkatkan pencadangan lebih dari 100% menjadi Rp24,6 triliun.

Capaian PPOP tersebut terutama didorong oleh pendapatan bunga bersih dan premi bersih sebesar Rp 54,5 triliun, tumbuh 12,3% dari akhir tahun 2015, dan pertumbuhan pendapatan atas jasa atau fee based income sebesar 7,6% menjadi Rp 20,0 triliun.

Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, perseroan juga terus memantapkan peran aktif dalam mendorong laju perekonomian nasional melalui penguatan fungsi intermediasi perbankan. Hingga akhir tahun lalu, perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp662,0 triliun, tumbuh 11,2% secara year on year. Angka tersebut melebihi laju pertumbuhan kredit industri pada periode yang sama, yakni 7,9%. 

Dari capaian tersebut, portofolio kredit produktif perseroan tercatat sebesar Rp 507,9 triliun, atau 85,7% dari total kredit Bank Mandiri (bank only), tumbuh 9,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan jenisnya, kredit modal kerja perseroan tercatat naik 8,8% menjadi Rp 323,1 triliun, sedangkan kredit investasi meningkat 10,9% menjadi Rp 184,8 triliun.

Kartika menambahkan, capaian ini didorong oleh komitmen kuat perseroan dalam mendukung program pembangunan yang bertujuan memperkuat kemandirian nasional. Untuk memperkuat konektivitas dan infrastruktur dasar misalnya, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit infrastruktur sebesar Rp57,3 triliun atau 54,8% dari total komitmen yang telah diberikan sebesar Rp 104,6 triliun. Kredit itu disalurkan untuk pembiayaan jalan tol sebesar Rp 14,5 triliun, pembangkit listrik Rp 39,3 triliun, transportasi (bandar udara, pelabuhan, dan kereta api) sebesar Rp 38,2 triliun, dan telekomunikasi sebesar Rp 12,6 triliun. 

“Kami ingin terus merealisasikan peran sebagai agen pembangunan melalui pembiayaan yang berkualitas dan bisa memberikan dampak signifikan pada penguatan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat,” kata Kartika.

Kartika menjelaskan, perseroan terus mencatat pertumbuhan positif pada seluruh segmen bisnis, dimana kenaikan terbesar secara nominal terjadi pada segmen corporate banking, yakni Rp 31,5 triliun menjadi Rp 230,3 triliun, dan secara persentase terjadi pada segmen micro banking, yakni 19,1% menjadi Rp 50,7 triliun. Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada sepanjang tahun lalu, perseroan menyalurkan KUR sebesar Rp13,3 triliun, atau 101% dari target awal kepada 303.720 debitur. Secara kumulatif, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp 35 triliun sejak pertama kali kepada 770.643 debitur di seluruh Indonesia.

“Kami percaya bahwa untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkesinambungan, kami juga perlu mengantisipasi berbagai risiko usaha yang ada, baik akibat situasi perekonomian domestik maupun global. Untuk itu kami telah meningkatkan alokasi pencadangan menjadi Rp 24,6 triliun pada akhir tahun lalu, dari Rp 12,0 triliun di tahun 2015,” kata Kartika.

Atas peningkatan pencadangan tersebut, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih sebesar Rp13,8 triliun, turun 32,1% dari akhir tahun sebelumnya. 

Meski mencatat penurunan laba bersih, Kartika melanjutkan, pihaknya masih tetap optimistis bahwa bisnis perseroan masih tetap solid karena didukung oleh keberhasilan perseroan menurunkan beban bunga sebesar 5,0% secara tahunan, yang didorong oleh kenaikan dana murah, serta efisiensi operasional sehingga menurunkan rasio biaya atas pendapatan (CIR) dari 43,0% menjadi 42,39%.

Pada akhir tahun lalu, dana murah Bank Mandiri mencapai Rp 489,4 triliun, naik Rp 45,5 triliun atau tumbuh 10,3% dibandingkan akhir tahun 2015 sebesar Rp 443,9 triliun. Kenaikan dana murah itu didorong oleh peningkatan tabungan sebesar Rp30,6 triliun menjadi Rp 302,3 triliun, dan kenaikan giro sebesar Rp14,9 triliun menjadi Rp 187,1 triliun.

Sebagai upaya untuk terus meningkatkan DPK, Bank Mandiri terus mengembangkan jaringan elektronik perseroan untuk melengkapi total 2.599 jaringan kantor cabang yang telah ada. Jaringan elektronik tersebut meliputi 17.461 mesin ATM, 236.711 mesin EDC, serta layanan internet banking, mobile banking dan call center 14000

“Kami berharap pencapaian aset sebesar Rp1.038,7 triliun pada akhir tahun lalu itu akan semakin mendekatkan kami pada peringkat Qualified ASEAN Bank (QAB) yang akan mendukung realisasi ekspansi bisnis perseroan ke regional,” tutur Kartika.